fatwa waktu, kesabaran, komitmen ; istiqomah
menulis disini membuka kemungkinan kamu mengerti apa yang dipikiranku kelak, jika tidak saat ini.
seperti aku yang mungkin menjadi mengerti tentang perasaan ini kelak, jika tidak saat ini.
sama seperti aku, kamu dan mereka menjadi mengerti tentang kejadian hari ini kelak, jika tidak saat ini.
seperti aku dan mereka, juga kamu yang mencari pengetahuan, mungkin menjadi mengerti tentang pengetahuan itu kelak jika tidak saat ini. :)
semoga kita semakin dekat denganNya *aamiin
tentang bagaimana caranya, biarlah Yang Maha Indah yang menyusunnya
bisa jadi kita mengerti caraNya adalah indah, jika tidak saat ini.
Thursday, May 16, 2013
Tuesday, May 7, 2013
TNI – POLRI : Sebuah Gap berawal dari Beban Psikologis
Pembahasan ini menarik bagi penulis dikarenakan penulis sebelumnya
mendapatkan tugas dari kampus yang berlatarbelakang TNI dan POLRI. Tepatnya
kejadian Lapas Cebongan, Sleman, Yogjakarta, Maret lalu. penulis yang hanya
mengetahui bahwa ada semacam ketidak-akuran antara TNI dan POLRI dituntut
mengetahui latar belakang ketidak-akuran tersebut. Berikut ini uraian singkat
mengenai Gap TNI dan POLRI yang penulis dapatkan dari tulisan mantan menteri
pertahanan Indonesia Moh. Mahfud MD (2010) dalam bukunya yang berjudul “Setahun
Bersama GusDur ; kenangan menjadi menteri disaat sulit diterbitkan oleh Morai
Kencana – Jakarta.
Beban psikologis dalam hubungan kelembagaan TNI dan POLRI berawal
dari ketentuan yang memisahkan tugas pertahanan dan keamanan. Pasal 2 ayat (2)
Tap MPR no VII/MPR/2000 menyebutkan
bahwa tugas pokok TNI adalah menegakan kedaulatan negara,keutuhan wilayah negara.
KRI yang berdasarkan UUD 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh
tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan
negara. Pasal 6 ayat (1) menyebutkan peran polisi adalah memelihara kemanan dan
ketertiban masyrakat, menegakkan hukum, memberikan pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat. Dalam prakteknya, kedua Tap MPR itu sering diartikan bahwa
tugas pertahanan ditekankan untuk menghadapi ancaman dari luar sedangkan tugas
keamanan ditekankan untuk mengatasi ancaman yang berasal dalam negeri.
Merujuk pada kedua ketetapan MPR tersebut kemudian muncul grey
areas dan beban psikologis antar polisi dan tentara, bahkan persaingan yang
kurang sehat antara TNI dan POLRI. Pada skala kecil kasus yang mana beban
psikologis ini nampak pada keluarga teman
penulis yang ayahnya berprofesi sebagai polisi dan seperti dalam Tap MPR
keseharian dari ayah teman penulis menangani kasus kriminal. Paman dari teman
penulis berprofesi sebagai tentara sekali lagi dalam Tap MPR 2000 yang telah
disebutkan diatas tugasnya adalah memproteksi NKRI dari ancaman eksternal/
asing/ luar. Seperti yang kita ketahui bersama saat ini NKRI tidak sedang dalam
keadaan berperang melawan negara lain atau diserang oleh negara-negara lain.
sehingga keseharian dari paman teman penulis tidak sesibuk ayah teman penulis
yang berprofesi sebagai polisi.
Teman penulis menceritakan pernah suatu ketika ada rencana bahwa
akan ada sistem reward bagi polisi yang kinerjanya bagus. Teman penulis
melanjtkan adanya wacana yang muncul bahwa jika polisi menerima reward maka
tentara juga sudah seharusnya mendapatkan reward. Permasalahannya akan mudah
kemudian menilai kinerjanya polisi dikarenakan ia melakukan perannya setiap
hari dalam menangani kasus kriminal sedangkan tentara, ia hanya akan dapat
dinilai ketika ia melaksanakan tugas peperangan. Bagaimana hendak memberi nilai
ketika tidak ada peperangan atau sesuatu yang dikerjakan sesuai peran yang
ditetapkan, maka jadilah sistim reward tersebut batal diterapkan.
Contoh diatas masih berada dalam lingkungan profesionalisme polisi
dan tentara. Teman penulis juga menerangkan diluar urusan profesionalitas
sekalipun entah sengaja atau tidak, entah kebetulan atau apapun itu menyebutkan
seringkali ayah dan pamannya berbeda pendapat yang kemudian anggota keluarga
menerjemahkannya karena perbedaan profesi tersebut.
Contoh diatas merupakan contoh konkrit dalam institusi terkecil
dalam sistem sosial yakni keluarga atas Tap MPR mengenai peran TNI dan POLRI.
Dalam skala kebijakan Mahfud MD menuliskan beberapa permasalahan yang timbul
antara lain :
Pertama, semula TNI dan POLRI berada dibawah satu insitusi yang
bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang dipimpin oleh Menhankam/Pengab (Menteri
Pertahanan/ panglima angkatan bersenjata) dan polri berada pada posisi yyang
paling lemah diantara tiga angkatan lainnya yaitu angkatan darat, angkatan
laut, dan angkatan udara. Setelah keluarnya Tap MPR tersebut kedudukan Polri menjadi
sejajar dengan TNI dan seorang Kapolri berkedudukan sejajar dengan seorang
panglima TNI dalam jabatan setingkat menteri. Beban psikologis muncul ketika
yang satu merasa mendapat kue besar (POLRI), sedang yang satunya lagi merasa kehilangan rejeki
(TNI).
Kedua, setelah keluarnya Tap MPR tersebut, Polri mandiri penuh
sebagai aparat negara setingkat departemen dalam menentukan bidang kebijakan
dan anggaran. Sedangkan TNI meskipun juga mandiri setingkat dengan departemen
namun kebijakan pertahanan dan anggarannya masih bergantung kepada Kementertian
Pertahanan. Panglima TNI hanya memiliki
kewenangan operasional dan komando kemiliteran. Diam-diam hal ini menimbulkan
kecemburuan di kalangan TNI karena Polri yang semula berada dibawah angkatan
militer, sekarang bukan saja menjadi sejajar secara stuktural, tetapi juga
menjadi lebih kuat kemandiriannya dibandingkan dengan TNI. Kemandirian dalam
kelembagaan dan anggaran Polri semakin menguat ketika Polri berhasil menggolkan
sebuah UU tentang kemandirian Polri dalam kelembagaan dan anggaran.
Ketiga, adanya tugas berhimpit antara pertahanan dan keamanan yang
kondisi tersebut sebagai grey areas (wilayah abu-abu). Grey areas merupakan
area ketidakjelasan siapa yang berwenang menangani suatu kasus. Misalnya kasus
yang terjadi di dalam negeri (dengan sifat ancaman keamanan) tetapi terhadap
unsur bercampur dengan asing (dengan sifat ancaman pertahanan). Dalam keadaan
seperti ini, ada resiko bahwa kedua aparat ini bisa saling berebutan karena masing-masing
menganggap itu menjadi lahannya atau sebaliknya saling sikap ini (saling berebutan
atau memilih berpangku tangan). Keduanya sama jeleknya bagi keadaan pertahanan
dan keamanan NKRI. Jika saling berebutan bisa terjadi konflik, tapi jika saling
berpangkutangan masalahnya bisa tidak terurus.
Permasalahan harga diri menjadi beban psikologis tersendiri bagi
polri dan TNI. Meskipun UU juga mengatur masalah koordinasi hal ini tidak
berjalan dikarenakan beban psikologis tersebut. Sehingga masing-masing aparat, polisi
terutama (karena pelaksanaan perannya setiap hari tidak pada moment tertentu)
akan merasa lebih terhormat jika pekerjaannya dilakukan sendiri.
Sekian dasar mengenai gap antara TNI dan POLRI. Penulis menyadari
menyadari tulisan ini hanya sedikit dan mungkin tidak lengkap dengan
perkembangannya saat ini. sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan.
Semoga bermanfaat.
Friday, March 8, 2013
Childern Learn What They Live (by Doroty law Nolte)
if a child lives with criticism, he learns to condemn
if a child lives with hostility, he learns to fight
if a child lives with ridicule, he learns to be shy
if a child lives with shame, he learns to be guilty
if a child lives with tolerance, he learns to be patient
if a child lives with encouragement, he learns to be confident
if a child lives with praise, he learns to be appreciate
if a child lives with fairness, he learns to be justice
if a child lives with security, he learns to have faith
if a child lives with approval, he learns to like himself
if a child lives with acceptance and friendship , he learns to find love in the world
(dalam bahasa indonesia)
Anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika ia dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika ia dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika ia dibesarkan dengan dorongan , ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan seebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jiak anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
sehingga ketika dipertemukan dengan teman yang memiliki sifat yang kurang nyaman maka tidak sepenuhnya kebiasaan yang membuat orang lain disekitarnya adalah karena dirinya sendiri. maka perlu toleransi untuknya mungkin saja lingkungan sosialnya tidak menyediakan fasilitas belajar yang sepositif kita terima. dan lagi pula tidak mungkin mengembalikan seseorang kedalam perut ibunya. tantangan dan peluang berjalan berdampingan. ketika tantangan cukup besar maka peluang pun ikut menganga.
teringat perkataan dosen di suatu kelas yang membahas mengenai multikulturalisme bahwa satu doa Nabi Muhammad yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah ketika Nabi Muhammad meminta agar semua umatnya dimasukkan dalam Surga-Nya. maka kesimpulannya adalah perbedaan itu suatu keniscayaan. perbedaan dapat dijadikan pembanding.
untuk calon bapak dan ibu semangat memeperbaiki diri yaaa….
teringat kata-kata seorang tokoh
“jika hanya sekedar hidup babi di hutan juga hidup
Jika bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”
Yang ingin saya tambahkan adalah JIKA MENIKAH HANYA UNTUK SEKEDAR REPRODUKSI, AYAM JUGA REPRODUKSI
if a child lives with criticism, he learns to condemn
if a child lives with hostility, he learns to fight
if a child lives with ridicule, he learns to be shy
if a child lives with shame, he learns to be guilty
if a child lives with tolerance, he learns to be patient
if a child lives with encouragement, he learns to be confident
if a child lives with praise, he learns to be appreciate
if a child lives with fairness, he learns to be justice
if a child lives with security, he learns to have faith
if a child lives with approval, he learns to like himself
if a child lives with acceptance and friendship , he learns to find love in the world
(dalam bahasa indonesia)
Anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika ia dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika ia dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika ia dibesarkan dengan dorongan , ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan seebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jiak anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
sehingga ketika dipertemukan dengan teman yang memiliki sifat yang kurang nyaman maka tidak sepenuhnya kebiasaan yang membuat orang lain disekitarnya adalah karena dirinya sendiri. maka perlu toleransi untuknya mungkin saja lingkungan sosialnya tidak menyediakan fasilitas belajar yang sepositif kita terima. dan lagi pula tidak mungkin mengembalikan seseorang kedalam perut ibunya. tantangan dan peluang berjalan berdampingan. ketika tantangan cukup besar maka peluang pun ikut menganga.
teringat perkataan dosen di suatu kelas yang membahas mengenai multikulturalisme bahwa satu doa Nabi Muhammad yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah ketika Nabi Muhammad meminta agar semua umatnya dimasukkan dalam Surga-Nya. maka kesimpulannya adalah perbedaan itu suatu keniscayaan. perbedaan dapat dijadikan pembanding.
untuk calon bapak dan ibu semangat memeperbaiki diri yaaa….
teringat kata-kata seorang tokoh
“jika hanya sekedar hidup babi di hutan juga hidup
Jika bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”
Yang ingin saya tambahkan adalah JIKA MENIKAH HANYA UNTUK SEKEDAR REPRODUKSI, AYAM JUGA REPRODUKSI
Thursday, January 31, 2013
KARYA TULIS ILMIAH
OPTIMALISASI SISTEM LINGKAGE DALAM MANAJEMEN WISATA SEJARAH DAN
BUDAYA PABRIK GULA PT PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO)
Dalam rangka
LOMBA KARYA TULIS PTPN X 2013
OLEH
: SUMIATI MIMI HAMAMI
Jl
Karang Menjangan Gang 1 lt 2 kamar 17
Telp : 083830253005/081359044967
SURABAYA, 31 JANUARI 2013
Formulir Pendaftaran
Lomba Karya Tulis dan Penyiaran
PT Perkebunan Nusantara X (Persero)
Data Peserta Lomba
Nama lengkap : Sumiati Mimi Hamami
Tempat/tanggal lahir : Bondowoso,
28 september 1992
Alamat :
Jl Karang Menjangan Gang 1 lt 2 kamar 17
Telepon :
083830253005/081359044967
E-mail : mimihamami.sumiati@gmail.com
Judul Karya:
- Optimalisasi Sistem Linkage Pada Manajemen Wisata
Sejarah Dan Budaya Pabrik Gula PTPN X,
Kategori umum dengan tema pengembangan wisata sejarah
pabrik gula: potensi bisnis dan model pemasarannya.
Tanggal Pemuatan di Blog/Facebook
Karya 1 : 31 januari 2013 di http://mimihamamisumiati.blogspot.com/
Saya yang bertanda tangan di
bawah ini menyatakan bahwa data yang saya sampaikan adalah benar. Dengan ini
saya menyatakan ikut serta dalam Lomba Karya Tulis dan Penyiaran PT Perkebunan
Nusantara X (Persero) dan menyetujui semua syarat lomba yang ditetapkan oleh
panitia.
Surabaya, 31 januari 2013
(Sumiati Mimi Hamami)
OPTIMALISASI
SISTEM LINKAGE DALAM MANAJEMEN WISATA SEJARAH DAN BUDAYA PABRIK GULA PTPN X
Oleh Sumiati Mimi Hamami
(Dalam Lomba Karya Tulis PTPN X 2013)
Oleh Sumiati Mimi Hamami
(Dalam Lomba Karya Tulis PTPN X 2013)
Pendahuluan
Sebagai institusi yang berdiri sejak zaman kolonial belanda, pabrik
gula merupakan salah satu artefak sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hingga
saat ini eksistensi pabrik gula sangat vital yakni sebagai salah satu pemasok
kebutuhan gula nasional yang harapannya negeri ini tidak membutuhkan impor dari
negara lain untuk memenuhi kebutuhan gula rakyatnya. Dalam sejarahnya seperti
di institusi manapun terdapat regenerasi pemegang kekuasaan. Dalam hal pabrik
gula regenerasi pemegang kekuasaan ini lebih sensual dikarenakan kepentingan yang
mewarnainya tidak hanya kepentingan bisnis akan tetapi juga kepentingan
politik. Sejarah pergantian pemegang kekuasaan ini menjadi salah satu daya
tarik sendiri bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegra. Bagi
wisatawan lokal adalah penting untuk
mengetahui sejarah perjalanan bangsanya
sendiri, bagi wisatawan mancanegara terutama keturunan belanda akan menjadi
nostalgia sendiri melihat karya para nenek moyangnya yang hingga saat ini tetap
lestari serta wisatawan mancanegara yang concern pada sejarah dunia
berkembang.
Wisata sejarah tidak sekedar melihat-lihat atau sekedar berfoto
ria, akan tetapi wisata sejarah memiliki makna yang mendalam bagi mereka yang
melakukan wisata sejarah. Wisatawan dengan destinasi tempat bersejarah tidak
hanya berangkat untuk melepaskan penat dari kesibukan sehari-hari akan tetapi
mereka berangkat dengan rasa keingintahuan yang tinggi sehingga ketika ia
berjumpa dengan artefak-artefak sejarah ia mampu mengidentifikasi dirinya
melalui pesan-pesan yang tersirat pada setiap artefak. Oleh karenanya wisatawan
ini dikategorikan pada kalangan wisatawan tingkat atas atau expert. Kenyataan
lainnya mengenai wisatawan sejarah atau budaya adalah wisatawan yang berkunjung
merupakan wisatawan yang terdidik. Sehingga kemajuan wisata budaya seiring atau
sejalan dengan perkembangan pendidikan suatu masyarakat. Wisata budaya akan
laku keras ketika pendidikan suatu masyarakat sudah mapan, ketika setiap
individu memiliki kemauan yang kuat untuk mencari tahu mengenai alam ini dan
manusia sebelum mereka, serta apa yang telah mereka lakukan untuk kemudian ia
olah sebagai pelajaran hidup. Hal ini mungkin hanya dilakukan oleh orang-orang
yang banyak menggunakan otak dan hatinya. Oleh karena itu tidak sedikit orang
yang menyebut wisata budaya sebagai bisnis masa depan.
Secara makro realitas pendidikan masyarakat Indonesia belum sampai
pada tingkat dimana orang-orangnya demikian antusias untuk mengetahui apa yang
ada disekitanya implikasi lanjutannya adalah minimnya antusiasme warga lokal
untuk melakukan perjalanan wisata sejarah atau budaya. Orang-orang yang
berpendidikan dengan baik serta mempunyai minat dengan wisata budaya –secara
kasar- dapat dihitung dengan jari. Kalangan ini biasanya berdomisili dikota
besar serta dengan latar belakang ekonomi atas. Hal ini tidak terlepas dari
kesenjangan kualitas pendidikan di pusat pemerintahan dengan pendidikan di
daerah pinggiran.
Profil Pangsa Pasar Atau Target Wisatawan Atau Pengunjung
Pengunjung wisata budaya menurut James J Spillane (2003) bahwa
produk pariwisata budaya memiliki segmen pasar khusus yaitu pasar knowledge
workers atau dalam istilah kepariwisataan disebut mature tourist atau wisatawan
berpengalaman dimana mereka melakukan perjalanan atau kunjungan ke kawasan lain
dengan tujuan tidak hanya bersifat recreational tetapi lebih bermotivasi
untuk terlibat langsung dengan aktivitas
kehidupan dan tradisi serta budaya masyarakat lokal. Segmen ini biasanya pada
umumnya merupakan kelompok menengah keatas dan berpendidikan yang mempunyai
waktu luang untuk bepergian misalnya para mahasiswa yang memiliki waktu liburan
cukup panjang, pensiunan (retired).
Potensi Bisnis
Dari profil wisatawan budaya diatas dapat diketahui peluang
terhadap bisnis wisata budaya sejarah pabrik gula sangat menjanjikan dari segi
wisatawan mancanegara terutama. Berdasarakan data traffic mobilitas di
pelabuhan udara setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan mobilitas warga
asing yang berkunjung ke Indonesia. Serta kabar baik lainnya adalah warga
mancanegara yang datang ke Indonesia berasal dari negara maju yang mana ini
berarti mereka mengenyam pendidikan sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka
memiliki keinginan atau minat yang tinggi terhadap wisata sejarah. Maka tindak
lanjut dari peluang ini adalah aktif berkomunikasi dengan mereka dengan
memanfaatkan berbagai media komunikasi baik agent travel maupun media cetak
seperti baliho, booklet, ataupun media kontemporer yakni internet.
Pangsa pasar wisatawan lokal tidak kalah sensualnya dengan pasar
wisatawan mancanegara, wisatawan lokal juga memiliki prospek yang luar biasa
dikarenakan pertumbuhan kelas menengah beberapa tahun terakhir sangat tinggi.
Hal ini menjadi peluang yang mana generasi dari kelas menengah ini tentunya
akan menjadi generasi yang terdidik. Serta kelas menengah ini akan menjadi
pensiunan yang akan memiliki daya baik ekonomi maupun ketersediaan waktu untuk
melakukan wisata budaya. Pertumbuhan minat terhadap wisata budaya pun berjalan
seiring meningkatnya keberadaan generasi ini.
Beranjak dari segi pangsa pasar ketika ditilik lebih lanjut potensi
produk wisata pabrik gula ini pun dapat dikembangkan dari segi ‘hal’ yang
ditawarkan. Wisata budaya sejarah pabrik gula dapat dikembangkan menjadi
menjadi living culture, artinya wisatawan tidak hanya disajikan artefak
peninggalan sejarah dalam hal ini berupa pabrik peninggalan jaman kolonial
belanda akan tetapi wisatawan juga mendapat kesempatan untuk menikmati sajian
seni pertunjukan saat masyarakat pelaku industri gula melakukan upacara dan
ritual penggilingan tebu.
Model Pemasaran: sistem linkage
Bisnis pariwisata terutama wisata budaya yang mana peminatnya lebih
banyak wisatawan asing daripada wisatawan lokal maka manajemen sebaiknya
memahami bisnis pariwisata sebagai suatu bisnis bersistem linkage. Yakni
menciptakan sistem yang mapan mulai dari penawaran destinasi kepada wisatawan,
sistem transportasi lokasi wisata, display lokasi wisata, fasilitas-fasilitas
ditempat wisata. Tujuan dari penciptaan sistem yang mapan tidak lain adalah
untuk memberikan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan dengan harapan
nantinya mereka akan membagi pengalaman mereka ketika kepada teman-teman mereka
sehingga dengan sendirinya kekuattan mouth to mouth menjadi kekuatan tersendiri
dalam bisnis wisata budaya ini.
Penawaran Dengan Memaksimalkan Berbagai Saluran Komunikasi Yang
Tepat
Tahap awal penawaran adalah wisatawan mengetahui produk yang hendak
ditawarkan. Agar wisatawan mengetahui akan wisata sejarah pabrik gula maka diperlukan
usaha komunikasi proaktif oleh pihak manajemen wisata pabrik gula. Agar kontak
tepat sasaran maka diperlukan media planning atau perencanaan media apa yang
kira-kira paling tepat digunakan. Dalam media planning dilakukan pemilihan
media, analisis media dan seleksi media. Tahap-tahap tersebut diperlukan dengan
tujuan agar pesan yang disampaikan dapat diterima sesuai dengan orang, waktu
dan tempat yang tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam media planning
antara lain:
-
Dimana akan mengiklankan?
-
Media apa yang harus digunakan?
-
Kapan waktu yang tepat untuk beriklan?
-
Seberapa sering iklan harus ditampilkan?
-
Keuntungan apa yang akan diperoleh dengan
menggunakan media tersebut apabila dibandingkan dengan media lain?
Kecenderungan para wisatawan mancanegara dalam menikmati wisata di
Indonesia mereka memiliki referensi destinasi khusus yang telah terpercaya.
Maka yang dapat dilakukan oleh manjemen pabrik gula adalah bergabung dengan
instansi yang menjadi rujukan para wisatawan mancanegara dalam menawarkan
destinasi wisata pabrik gula. Selain itu manajemen juga dapat memasang baliho
di bandara yang merupakan lokasi pertama para wisatawan mancanegara
menginjakkan kaki di tanah Indonesia.
Untuk wisatawan lokal manajemen dapat melakukan promosi dikhususkan
pada masyarakat di kota-kota besar di Indonesia yang mana didalamnya terdapat
banyak kalangan terdidik serta dengan keadaan ekonomi menengah keatas.
Perjalanan dan Paket transportasi
Lokasi destinasi minimal dikomunikasikan dengan memberikan peta
perjalan kepada calon wisatawan dilengkapi dengan saran-saran transportasi apa
saja yang dapat digunakan oleh wisatawan. Terutama jika menggunakan sarana
transportasi umum.
Disisi lain
mengingat calon wisatawan berasal dari kelas menengah keatas maka akan semakin
lengkap ketika manajemen merancang pelayanan ekstra untuk pengunjung kelas
atas. Dalam hal transportasi misalnya manajemen menyediakan layanan
transportasi misalnya mulai dari bandara menuju lokasi wisata. Baik menggunakan
bis jika rombongan maupun menggunakan mobil pribadi.
Daya Dukung Lokasi Wisata
Daya dukung merupakan kemampuan suatu lokasi wisata dalam menampung
ataupun melayani wisatawan. Apa saja yang dapat diperoleh wisatawan ketika
berada di lokasi wisata harus diatur dengan baik. Pada wisata pabrik gula yang
dapat disediakan adalah artefak berupa bangunan, lingkungan pabrik. Melengkapi
fasilitas penginapan yang sudah ada yakni bangunan yang mana wisatawan dapat
menginap semalam. Penginapan ini dapat dikembangkan menjadikan wisatawan
sebagai konglomerat pemilik pabrik gula dalam semalam. Hal ini dapat dicapai
dengan memberikan kesan yang classic secara menyeluruh terhadap apapun yang
berada dalam bangunan penginapan yang dimaksud. Kesan ini dapat dibangun mulai
dari dekorasi ruangan, tempat tidur, kostum, hingga hidangan makan malam serta
hiburan yang biasa dinikmati oleh para konglomerat pemilik pabrik gula zaman
kolonial. Sehingga secara totalitas para wisatawan yang stay long ini
dapat merasakan menjadi konglomerat pemilik pabrik seperti jaman kolonial
dahulu.
Melalui beberapa pengembangan terhadap atraksi wisata sejarah dan
budaya yang dikemukakan diatas diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
terhadap pengembangan wisata sejarah pabrik gula khususnya dan perkembangan
wisata di Indonesia umumnya.
Daftar Pustaka
Arifin,
B, 2004, Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Pichard,
M, 2006, Bali; Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata, Kepustakaan
Populer Gramedia, Jakarta.
Salah,
W, Crampon, LJ, Rothfield, LM 1997, Pemasaran Pariwisata, Pradnya
Paramita, Jakarta.
Yoeti,
AO, 1985, Pemasaran Pariwisata,
Angkasa, Bandung.
OPTIMALISASI SISTEM LINKAGE DALAM MANAJEMEN WISATA SEJARAH DAN BUDAYA PABRIK GULA PTPN X
OPTIMALISASI
SISTEM LINKAGE DALAM MANAJEMEN WISATA SEJARAH DAN BUDAYA PABRIK GULA PTPN X
Oleh Sumiati Mimi Hamami
(Dalam Lomba Karya Tulis PTPN X 2013)
Oleh Sumiati Mimi Hamami
(Dalam Lomba Karya Tulis PTPN X 2013)
Pendahuluan
Sebagai institusi yang berdiri sejak zaman kolonial belanda, pabrik
gula merupakan salah satu artefak sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hingga
saat ini eksistensi pabrik gula sangat vital yakni sebagai salah satu pemasok
kebutuhan gula nasional yang harapannya negeri ini tidak membutuhkan impor dari
negara lain untuk memenuhi kebutuhan gula rakyatnya. Dalam sejarahnya seperti
di institusi manapun terdapat regenerasi pemegang kekuasaan. Dalam hal pabrik
gula regenerasi pemegang kekuasaan ini lebih sensual dikarenakan kepentingan
yang mewarnainya tidak hanya kepentingan bisnis akan tetapi juga kepentingan
politik. Sejarah pergantian pemegang kekuasaan ini menjadi salah satu daya
tarik sendiri bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegra. Bagi wisatawan lokal adalah penting untuk mengetahui sejarah
perjalanan bangsanya sendiri, bagi
wisatawan mancanegara terutama keturunan belanda akan menjadi nostalgia sendiri
melihat karya para nenek moyangnya yang hingga saat ini tetap lestari serta
wisatawan mancanegara yang concern pada sejarah dunia berkembang.
Wisata sejarah tidak sekedar melihat-lihat atau sekedar berfoto
ria, akan tetapi wisata sejarah memiliki makna yang mendalam bagi mereka yang
melakukan wisata sejarah. Wisatawan dengan destinasi tempat bersejarah tidak
hanya berangkat untuk melepaskan penat dari kesibukan sehari-hari akan tetapi
mereka berangkat dengan rasa keingintahuan yang tinggi sehingga ketika ia
berjumpa dengan artefak-artefak sejarah ia mampu mengidentifikasi dirinya
melalui pesan-pesan yang tersirat pada setiap artefak. Oleh karenanya wisatawan
ini dikategorikan pada kalangan wisatawan tingkat atas atau expert. Kenyataan
lainnya mengenai wisatawan sejarah atau budaya adalah wisatawan yang berkunjung
merupakan wisatawan yang terdidik. Sehingga kemajuan wisata budaya seiring atau
sejalan dengan perkembangan pendidikan suatu masyarakat. Wisata budaya akan
laku keras ketika pendidikan suatu masyarakat sudah mapan, ketika setiap
individu memiliki kemauan yang kuat untuk mencari tahu mengenai alam ini dan
manusia sebelum mereka, serta apa yang telah mereka lakukan untuk kemudian ia
olah sebagai pelajaran hidup. Hal ini mungkin hanya dilakukan oleh orang-orang
yang banyak menggunakan otak dan hatinya. Oleh karena itu tidak sedikit orang
yang menyebut wisata budaya sebagai bisnis masa depan.
Secara makro realitas pendidikan masyarakat Indonesia belum sampai
pada tingkat dimana orang-orangnya demikian antusias untuk mengetahui apa yang
ada disekitanya implikasi lanjutannya adalah minimnya antusiasme warga lokal
untuk melakukan perjalanan wisata sejarah atau budaya. Orang-orang yang
berpendidikan dengan baik serta mempunyai minat dengan wisata budaya –secara
kasar- dapat dihitung dengan jari. Kalangan ini biasanya berdomisili dikota
besar serta dengan latar belakang ekonomi atas. Hal ini tidak terlepas dari
kesenjangan kualitas pendidikan di pusat pemerintahan dengan pendidikan di
daerah pinggiran.
Profil
Pangsa Pasar Atau Target Wisatawan Atau Pengunjung
Pengunjung wisata budaya menurut James J Spillane (2003) bahwa
produk pariwisata budaya memiliki segmen pasar khusus yaitu pasar knowledge
workers atau dalam istilah kepariwisataan disebut mature tourist atau wisatawan
berpengalaman dimana mereka melakukan perjalanan atau kunjungan ke kawasan lain
dengan tujuan tidak hanya bersifat recreational tetapi lebih bermotivasi
untuk terlibat langsung dengan aktivitas
kehidupan dan tradisi serta budaya masyarakat lokal. Segmen ini biasanya pada
umumnya merupakan kelompok menengah keatas dan berpendidikan yang mempunyai
waktu luang untuk bepergian misalnya para mahasiswa yang memiliki waktu liburan
cukup panjang, pensiunan (retired).
Potensi
Bisnis
Dari profil wisatawan budaya diatas dapat diketahui peluang
terhadap bisnis wisata budaya sejarah pabrik gula sangat menjanjikan dari segi
wisatawan mancanegara terutama. Berdasarakan data traffic mobilitas di
pelabuhan udara setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan mobilitas warga
asing yang berkunjung ke Indonesia. Serta kabar baik lainnya adalah warga
mancanegara yang datang ke Indonesia berasal dari negara maju yang mana ini
berarti mereka mengenyam pendidikan sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka
memiliki keinginan atau minat yang tinggi terhadap wisata sejarah. Maka tindak
lanjut dari peluang ini adalah aktif berkomunikasi dengan mereka dengan
memanfaatkan berbagai media komunikasi baik agent travel maupun media cetak seperti
baliho, booklet, ataupun media kontemporer yakni internet.
Pangsa pasar wisatawan lokal tidak kalah sensualnya dengan pasar
wisatawan mancanegara, wisatawan lokal juga memiliki prospek yang luar biasa
dikarenakan pertumbuhan kelas menengah beberapa tahun terakhir sangat tinggi.
Hal ini menjadi peluang yang mana generasi dari kelas menengah ini tentunya
akan menjadi generasi yang terdidik. Serta kelas menengah ini akan menjadi
pensiunan yang akan memiliki daya baik ekonomi maupun ketersediaan waktu untuk
melakukan wisata budaya. Pertumbuhan minat terhadap wisata budaya pun berjalan
seiring meningkatnya keberadaan generasi ini.
Beranjak dari segi pangsa pasar ketika ditilik lebih lanjut potensi
produk wisata pabrik gula ini pun dapat dikembangkan dari segi ‘hal’ yang
ditawarkan. Wisata budaya sejarah pabrik gula dapat dikembangkan menjadi
menjadi living culture, artinya wisatawan tidak hanya disajikan artefak peninggalan
sejarah dalam hal ini berupa pabrik peninggalan jaman kolonial belanda akan
tetapi wisatawan juga mendapat kesempatan untuk menikmati sajian seni
pertunjukan saat masyarakat pelaku industri gula melakukan upacara dan ritual
penggilingan tebu.
Model
Pemasaran: sistem linkage
Bisnis pariwisata terutama wisata budaya yang mana peminatnya lebih
banyak wisatawan asing daripada wisatawan lokal maka manajemen sebaiknya memahami
bisnis pariwisata sebagai suatu bisnis bersistem linkage. Yakni menciptakan sistem
yang mapan mulai dari penawaran destinasi kepada wisatawan, sistem transportasi
lokasi wisata, display lokasi wisata, fasilitas-fasilitas ditempat wisata.
Tujuan dari penciptaan sistem yang mapan tidak lain adalah untuk memberikan
pengalaman yang berbeda kepada wisatawan dengan harapan nantinya mereka akan
membagi pengalaman mereka ketika kepada teman-teman mereka sehingga dengan
sendirinya kekuattan mouth to mouth menjadi kekuatan tersendiri dalam bisnis
wisata budaya ini.
Penawaran
Dengan Memaksimalkan Berbagai Saluran Komunikasi Yang Tepat
Tahap awal penawaran adalah wisatawan mengetahui produk yang hendak
ditawarkan. Agar wisatawan mengetahui akan wisata sejarah pabrik gula maka
diperlukan usaha komunikasi proaktif oleh pihak manajemen wisata pabrik gula. Agar
kontak tepat sasaran maka diperlukan media planning atau perencanaan media apa
yang kira-kira paling tepat digunakan. Dalam media planning dilakukan pemilihan
media, analisis media dan seleksi media. Tahap-tahap tersebut diperlukan dengan
tujuan agar pesan yang disampaikan dapat diterima sesuai dengan orang, waktu
dan tempat yang tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam media planning
antara lain:
-
Dimana akan mengiklankan?
-
Media apa yang harus digunakan?
-
Kapan waktu yang tepat untuk beriklan?
-
Seberapa sering iklan harus ditampilkan?
-
Keuntungan apa yang akan diperoleh dengan
menggunakan media tersebut apabila dibandingkan dengan media lain?
Kecenderungan
para wisatawan mancanegara dalam menikmati wisata di Indonesia mereka memiliki
referensi destinasi khusus yang telah terpercaya. Maka yang dapat dilakukan oleh
manjemen pabrik gula adalah bergabung dengan instansi yang menjadi rujukan para
wisatawan mancanegara dalam menawarkan destinasi wisata pabrik gula. Selain itu
manajemen juga dapat memasang baliho di bandara yang merupakan lokasi pertama
para wisatawan mancanegara menginjakkan kaki di tanah Indonesia.
Untuk wisatawan lokal manajemen dapat melakukan promosi dikhususkan
pada masyarakat di kota-kota besar di Indonesia yang mana didalamnya terdapat
banyak kalangan terdidik serta dengan keadaan ekonomi menengah keatas.
Perjalanan
dan Paket transportasi
Lokasi destinasi minimal dikomunikasikan dengan memberikan peta
perjalan kepada calon wisatawan dilengkapi dengan saran-saran transportasi apa
saja yang dapat digunakan oleh wisatawan. Terutama jika menggunakan sarana
transportasi umum.
Disisi lain mengingat calon
wisatawan berasal dari kelas menengah keatas maka akan semakin lengkap ketika
manajemen merancang pelayanan ekstra untuk pengunjung kelas atas. Dalam hal
transportasi misalnya manajemen menyediakan layanan transportasi misalnya mulai
dari bandara menuju lokasi wisata. Baik menggunakan bis jika rombongan maupun
menggunakan mobil pribadi.
Daya
Dukung Lokasi Wisata
Daya dukung merupakan kemampuan suatu lokasi wisata dalam menampung
ataupun melayani wisatawan. Apa saja yang dapat diperoleh wisatawan ketika
berada di lokasi wisata harus diatur dengan baik. Pada wisata pabrik gula yang
dapat disediakan adalah artefak berupa bangunan, lingkungan pabrik. Melengkapi
fasilitas penginapan yang sudah ada yakni bangunan yang mana wisatawan dapat
menginap semalam. Penginapan ini dapat dikembangkan menjadikan wisatawan
sebagai konglomerat pemilik pabrik gula dalam semalam. Hal ini dapat dicapai dengan
memberikan kesan yang classic secara menyeluruh terhadap apapun yang berada
dalam bangunan penginapan yang dimaksud. Kesan ini dapat dibangun mulai dari
dekorasi ruangan, tempat tidur, kostum, hingga hidangan makan malam serta
hiburan yang biasa dinikmati oleh para konglomerat pemilik pabrik gula zaman
kolonial. Sehingga secara totalitas para wisatawan yang stay long ini
dapat merasakan menjadi konglomerat pemilik pabrik seperti jaman kolonial
dahulu.
Melalui beberapa pengembangan terhadap atraksi wisata sejarah dan budaya
yang dikemukakan diatas diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap
pengembangan wisata sejarah pabrik gula khususnya dan perkembangan wisata di
Indonesia umumnya.
Daftar Bacaan
Arifin,
B, 2004, Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Pichard,
M, 2006, Bali; Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata, Kepustakaan
Populer Gramedia, Jakarta.
Salah,
W, Crampon, LJ, Rothfield, LM 1997, Pemasaran Pariwisata, Pradnya
Paramita, Jakarta.
Yoeti,
AO, 1985, Pemasaran Pariwisata, Angkasa,
Bandung.
Subscribe to:
Comments (Atom)
.jpg)