OPTIMALISASI
SISTEM LINKAGE DALAM MANAJEMEN WISATA SEJARAH DAN BUDAYA PABRIK GULA PTPN X
Oleh Sumiati Mimi Hamami
(Dalam Lomba Karya Tulis PTPN X 2013)
Oleh Sumiati Mimi Hamami
(Dalam Lomba Karya Tulis PTPN X 2013)
Pendahuluan
Sebagai institusi yang berdiri sejak zaman kolonial belanda, pabrik
gula merupakan salah satu artefak sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hingga
saat ini eksistensi pabrik gula sangat vital yakni sebagai salah satu pemasok
kebutuhan gula nasional yang harapannya negeri ini tidak membutuhkan impor dari
negara lain untuk memenuhi kebutuhan gula rakyatnya. Dalam sejarahnya seperti
di institusi manapun terdapat regenerasi pemegang kekuasaan. Dalam hal pabrik
gula regenerasi pemegang kekuasaan ini lebih sensual dikarenakan kepentingan
yang mewarnainya tidak hanya kepentingan bisnis akan tetapi juga kepentingan
politik. Sejarah pergantian pemegang kekuasaan ini menjadi salah satu daya
tarik sendiri bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegra. Bagi wisatawan lokal adalah penting untuk mengetahui sejarah
perjalanan bangsanya sendiri, bagi
wisatawan mancanegara terutama keturunan belanda akan menjadi nostalgia sendiri
melihat karya para nenek moyangnya yang hingga saat ini tetap lestari serta
wisatawan mancanegara yang concern pada sejarah dunia berkembang.
Wisata sejarah tidak sekedar melihat-lihat atau sekedar berfoto
ria, akan tetapi wisata sejarah memiliki makna yang mendalam bagi mereka yang
melakukan wisata sejarah. Wisatawan dengan destinasi tempat bersejarah tidak
hanya berangkat untuk melepaskan penat dari kesibukan sehari-hari akan tetapi
mereka berangkat dengan rasa keingintahuan yang tinggi sehingga ketika ia
berjumpa dengan artefak-artefak sejarah ia mampu mengidentifikasi dirinya
melalui pesan-pesan yang tersirat pada setiap artefak. Oleh karenanya wisatawan
ini dikategorikan pada kalangan wisatawan tingkat atas atau expert. Kenyataan
lainnya mengenai wisatawan sejarah atau budaya adalah wisatawan yang berkunjung
merupakan wisatawan yang terdidik. Sehingga kemajuan wisata budaya seiring atau
sejalan dengan perkembangan pendidikan suatu masyarakat. Wisata budaya akan
laku keras ketika pendidikan suatu masyarakat sudah mapan, ketika setiap
individu memiliki kemauan yang kuat untuk mencari tahu mengenai alam ini dan
manusia sebelum mereka, serta apa yang telah mereka lakukan untuk kemudian ia
olah sebagai pelajaran hidup. Hal ini mungkin hanya dilakukan oleh orang-orang
yang banyak menggunakan otak dan hatinya. Oleh karena itu tidak sedikit orang
yang menyebut wisata budaya sebagai bisnis masa depan.
Secara makro realitas pendidikan masyarakat Indonesia belum sampai
pada tingkat dimana orang-orangnya demikian antusias untuk mengetahui apa yang
ada disekitanya implikasi lanjutannya adalah minimnya antusiasme warga lokal
untuk melakukan perjalanan wisata sejarah atau budaya. Orang-orang yang
berpendidikan dengan baik serta mempunyai minat dengan wisata budaya –secara
kasar- dapat dihitung dengan jari. Kalangan ini biasanya berdomisili dikota
besar serta dengan latar belakang ekonomi atas. Hal ini tidak terlepas dari
kesenjangan kualitas pendidikan di pusat pemerintahan dengan pendidikan di
daerah pinggiran.
Profil
Pangsa Pasar Atau Target Wisatawan Atau Pengunjung
Pengunjung wisata budaya menurut James J Spillane (2003) bahwa
produk pariwisata budaya memiliki segmen pasar khusus yaitu pasar knowledge
workers atau dalam istilah kepariwisataan disebut mature tourist atau wisatawan
berpengalaman dimana mereka melakukan perjalanan atau kunjungan ke kawasan lain
dengan tujuan tidak hanya bersifat recreational tetapi lebih bermotivasi
untuk terlibat langsung dengan aktivitas
kehidupan dan tradisi serta budaya masyarakat lokal. Segmen ini biasanya pada
umumnya merupakan kelompok menengah keatas dan berpendidikan yang mempunyai
waktu luang untuk bepergian misalnya para mahasiswa yang memiliki waktu liburan
cukup panjang, pensiunan (retired).
Potensi
Bisnis
Dari profil wisatawan budaya diatas dapat diketahui peluang
terhadap bisnis wisata budaya sejarah pabrik gula sangat menjanjikan dari segi
wisatawan mancanegara terutama. Berdasarakan data traffic mobilitas di
pelabuhan udara setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan mobilitas warga
asing yang berkunjung ke Indonesia. Serta kabar baik lainnya adalah warga
mancanegara yang datang ke Indonesia berasal dari negara maju yang mana ini
berarti mereka mengenyam pendidikan sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka
memiliki keinginan atau minat yang tinggi terhadap wisata sejarah. Maka tindak
lanjut dari peluang ini adalah aktif berkomunikasi dengan mereka dengan
memanfaatkan berbagai media komunikasi baik agent travel maupun media cetak seperti
baliho, booklet, ataupun media kontemporer yakni internet.
Pangsa pasar wisatawan lokal tidak kalah sensualnya dengan pasar
wisatawan mancanegara, wisatawan lokal juga memiliki prospek yang luar biasa
dikarenakan pertumbuhan kelas menengah beberapa tahun terakhir sangat tinggi.
Hal ini menjadi peluang yang mana generasi dari kelas menengah ini tentunya
akan menjadi generasi yang terdidik. Serta kelas menengah ini akan menjadi
pensiunan yang akan memiliki daya baik ekonomi maupun ketersediaan waktu untuk
melakukan wisata budaya. Pertumbuhan minat terhadap wisata budaya pun berjalan
seiring meningkatnya keberadaan generasi ini.
Beranjak dari segi pangsa pasar ketika ditilik lebih lanjut potensi
produk wisata pabrik gula ini pun dapat dikembangkan dari segi ‘hal’ yang
ditawarkan. Wisata budaya sejarah pabrik gula dapat dikembangkan menjadi
menjadi living culture, artinya wisatawan tidak hanya disajikan artefak peninggalan
sejarah dalam hal ini berupa pabrik peninggalan jaman kolonial belanda akan
tetapi wisatawan juga mendapat kesempatan untuk menikmati sajian seni
pertunjukan saat masyarakat pelaku industri gula melakukan upacara dan ritual
penggilingan tebu.
Model
Pemasaran: sistem linkage
Bisnis pariwisata terutama wisata budaya yang mana peminatnya lebih
banyak wisatawan asing daripada wisatawan lokal maka manajemen sebaiknya memahami
bisnis pariwisata sebagai suatu bisnis bersistem linkage. Yakni menciptakan sistem
yang mapan mulai dari penawaran destinasi kepada wisatawan, sistem transportasi
lokasi wisata, display lokasi wisata, fasilitas-fasilitas ditempat wisata.
Tujuan dari penciptaan sistem yang mapan tidak lain adalah untuk memberikan
pengalaman yang berbeda kepada wisatawan dengan harapan nantinya mereka akan
membagi pengalaman mereka ketika kepada teman-teman mereka sehingga dengan
sendirinya kekuattan mouth to mouth menjadi kekuatan tersendiri dalam bisnis
wisata budaya ini.
Penawaran
Dengan Memaksimalkan Berbagai Saluran Komunikasi Yang Tepat
Tahap awal penawaran adalah wisatawan mengetahui produk yang hendak
ditawarkan. Agar wisatawan mengetahui akan wisata sejarah pabrik gula maka
diperlukan usaha komunikasi proaktif oleh pihak manajemen wisata pabrik gula. Agar
kontak tepat sasaran maka diperlukan media planning atau perencanaan media apa
yang kira-kira paling tepat digunakan. Dalam media planning dilakukan pemilihan
media, analisis media dan seleksi media. Tahap-tahap tersebut diperlukan dengan
tujuan agar pesan yang disampaikan dapat diterima sesuai dengan orang, waktu
dan tempat yang tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam media planning
antara lain:
-
Dimana akan mengiklankan?
-
Media apa yang harus digunakan?
-
Kapan waktu yang tepat untuk beriklan?
-
Seberapa sering iklan harus ditampilkan?
-
Keuntungan apa yang akan diperoleh dengan
menggunakan media tersebut apabila dibandingkan dengan media lain?
Kecenderungan
para wisatawan mancanegara dalam menikmati wisata di Indonesia mereka memiliki
referensi destinasi khusus yang telah terpercaya. Maka yang dapat dilakukan oleh
manjemen pabrik gula adalah bergabung dengan instansi yang menjadi rujukan para
wisatawan mancanegara dalam menawarkan destinasi wisata pabrik gula. Selain itu
manajemen juga dapat memasang baliho di bandara yang merupakan lokasi pertama
para wisatawan mancanegara menginjakkan kaki di tanah Indonesia.
Untuk wisatawan lokal manajemen dapat melakukan promosi dikhususkan
pada masyarakat di kota-kota besar di Indonesia yang mana didalamnya terdapat
banyak kalangan terdidik serta dengan keadaan ekonomi menengah keatas.
Perjalanan
dan Paket transportasi
Lokasi destinasi minimal dikomunikasikan dengan memberikan peta
perjalan kepada calon wisatawan dilengkapi dengan saran-saran transportasi apa
saja yang dapat digunakan oleh wisatawan. Terutama jika menggunakan sarana
transportasi umum.
Disisi lain mengingat calon
wisatawan berasal dari kelas menengah keatas maka akan semakin lengkap ketika
manajemen merancang pelayanan ekstra untuk pengunjung kelas atas. Dalam hal
transportasi misalnya manajemen menyediakan layanan transportasi misalnya mulai
dari bandara menuju lokasi wisata. Baik menggunakan bis jika rombongan maupun
menggunakan mobil pribadi.
Daya
Dukung Lokasi Wisata
Daya dukung merupakan kemampuan suatu lokasi wisata dalam menampung
ataupun melayani wisatawan. Apa saja yang dapat diperoleh wisatawan ketika
berada di lokasi wisata harus diatur dengan baik. Pada wisata pabrik gula yang
dapat disediakan adalah artefak berupa bangunan, lingkungan pabrik. Melengkapi
fasilitas penginapan yang sudah ada yakni bangunan yang mana wisatawan dapat
menginap semalam. Penginapan ini dapat dikembangkan menjadikan wisatawan
sebagai konglomerat pemilik pabrik gula dalam semalam. Hal ini dapat dicapai dengan
memberikan kesan yang classic secara menyeluruh terhadap apapun yang berada
dalam bangunan penginapan yang dimaksud. Kesan ini dapat dibangun mulai dari
dekorasi ruangan, tempat tidur, kostum, hingga hidangan makan malam serta
hiburan yang biasa dinikmati oleh para konglomerat pemilik pabrik gula zaman
kolonial. Sehingga secara totalitas para wisatawan yang stay long ini
dapat merasakan menjadi konglomerat pemilik pabrik seperti jaman kolonial
dahulu.
Melalui beberapa pengembangan terhadap atraksi wisata sejarah dan budaya
yang dikemukakan diatas diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap
pengembangan wisata sejarah pabrik gula khususnya dan perkembangan wisata di
Indonesia umumnya.
Daftar Bacaan
Arifin,
B, 2004, Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Pichard,
M, 2006, Bali; Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata, Kepustakaan
Populer Gramedia, Jakarta.
Salah,
W, Crampon, LJ, Rothfield, LM 1997, Pemasaran Pariwisata, Pradnya
Paramita, Jakarta.
Yoeti,
AO, 1985, Pemasaran Pariwisata, Angkasa,
Bandung.
No comments:
Post a Comment